Acara yang diinisiasi oleh Van Sweet Pulubuhu, penerima manfaat program Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI, ini mempertemukan sekitar 70 peserta. Mereka berasal dari berbagai elemen, mulai dari pegiat budaya, komunitas teater, PH Dwisetyo Produksi, awak media, hingga perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo serta Kantor Pelestarian Kebudayaan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Husain Ali, yang membuka langsung kegiatan tersebut menekankan pentingnya sinergi dalam menjaga identitas daerah. Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber kompeten: Alan Ferdinand Ambo (Kantor Pelestarian Kebudayaan Gorontalo), Cristine Utina (Founder Soba Gorontalo), dan Mohamad Latief (Pemerintah Desa).
Penyelenggara kegiatan, Van Sweet Pulubuhu, menyampaikan bahwa forum ini merupakan langkah awal untuk membawa kearifan lokal Gorontalo ke level yang lebih tinggi.
"Hari ini kami mengangkat tentang kearifan lokal yang selama ini mulai punah. Insya Allah dimulai dari sini, ke depan Gorontalo bisa menampilkan film-film budaya yang mampu menembus kancah nasional," ujar Van Sweet dalam sambutannya.
Selama sesi diskusi, suasana berlangsung interaktif. Para peserta aktif memberikan gagasan mengenai tantangan pelestarian budaya di era modern. Fokus utama dari forum ini adalah menciptakan kolaborasi nyata antara pemerintah, pelaku seni, dan media untuk mengemas nilai-nilai tradisional dalam bentuk karya kreatif seperti film.
Melalui output berupa karya visual, diharapkan identitas budaya Gorontalo tidak hanya terjaga bagi generasi mendatang, tetapi juga dikenal lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.