Wakil Ketua BAKN DPR RI, Herman Khaeron, mengungkapkan bahwa beberapa kebijakan penghematan sudah mulai diimplementasikan oleh pemerintah. Salah satu yang paling menonjol adalah penerapan kembali sistem kerja Work From Anywhere (WFA) untuk menekan konsumsi energi operasional.
Selain WFA, pemerintah juga telah menerapkan pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Saat ini, masyarakat hanya diperbolehkan membeli BBM dengan kuota maksimal 50 liter per hari guna mencegah pemborosan dan aksi panic buying.
"Penyaluran BBM sekarang dibatasi 50 liter per hari. Ini mudah-mudahan menjadi penghematan sehingga tidak terjadi penggunaan berlebih," kata Herman di Samarinda, Senin (6/4/2026).
Herman menekankan bahwa langkah-langkah ini sangat diperlukan karena kenaikan harga energi dunia berada di luar kendali domestik. Indonesia harus bersiap dengan skenario terburuk jika harga minyak internasional terus melonjak akibat konflik global.
Ia juga membandingkan situasi saat ini dengan krisis tahun 2005 di masa pemerintahan SBY, di mana harga minyak dunia melesat dari 40 USD ke 140 USD per barel. Pengalaman masa lalu tersebut menunjukkan bahwa pemerintah harus memiliki nyali untuk mengambil kebijakan kasuistik.
Meskipun fokus pada penghematan, Herman mengingatkan pemerintah untuk tidak melupakan upaya peningkatan pendapatan negara. Keseimbangan antara memangkas pengeluaran dan menciptakan lapangan kerja baru tetap harus dijaga demi kesejahteraan rakyat.
DPR RI, lanjut Herman, mendukung penuh langkah Presiden Prabowo Subianto dalam merumuskan strategi terbaik untuk menghadapi tantangan ini. Sinergi antara kebijakan fiskal yang ketat dan perlindungan sosial menjadi kunci utama stabilitas nasional.
Pertemuan yang melibatkan Gubernur Kalimantan Timur dan BPK RI ini juga bertujuan untuk menyinkronkan kebijakan keuangan antara pusat dan daerah. Harmonisasi ini penting agar langkah penghematan di tingkat pusat juga diikuti secara disiplin oleh pemerintah daerah.
Melalui telaah tematik terhadap subsidi energi, BAKN berharap pemerintah dapat menemukan formula yang mampu menekan konsumsi tanpa melumpuhkan roda ekonomi masyarakat. Penghematan kolektif diharapkan dapat menjaga napas fiskal hingga situasi global kembali mereda.
