Intinusa (Gorontalo)- Pemutaran perdana film "Manis Yang Tertinggal" di XXI Gorontalo pada Sabtu, 12 September 2026, menyimpan cerita pengabdian panjang seorang seniman di balik layarnya. Sutradara Van Sweet mendedikasikan karya layar lebar ini sebagai wujud kecintaannya yang mendalam terhadap wilayah pedesaan dan komunitas lokal yang telah ia bina sejak puluhan tahun silam.
Ikatan batin tersebut bermula pada tahun 1997, ketika Van Sweet mengabdikan diri mengajar anak-anak suku Polahi di Desa Asparaga. Kedekatan emosional inilah yang kemudian melandasi keputusannya menjadikan Desa Asparaga sebagai pusat utama pengambilan gambar film tersebut. "Makanya saya kembali lagi ke sana, bagaimana Asparaga ini menjadi tempat pusat lokasi pengambilan video dari film Manis Yang Tertinggal," kenang Van Sweet.
Konsistensi Van Sweet dalam mengangkat akar rumput juga terlihat jelas dari pilihan pemainnya. Alih-alih merekrut aktor profesional dari sanggar seni, ia justru memberi panggung kepada warga lokal yang belum pernah bersentuhan dengan dunia akting sama sekali. Bagi sang sutradara, keputusan ini justru melahirkan kualitas visual dan emosi yang jauh lebih hidup. "Karena ternyata masyarakat yang tidak pernah akting itu, yang tidak pernah ikut sanggar dan lain-lain, justru mereka lebih natural," tegasnya.
Di balik layar, proses penggarapan film yang memakan waktu dari bulan April hingga September ini sempat menemui jalan terjal, terutama keraguan untuk menembus standar bioskop komersial. Namun, kegigihan tim berhasil membuahkan hasil manis. "Pertama kami merasa pemutaran di XXI itu tidak memungkinkan, tapi dengan tim-tim yang lain alhamdulillah kami bisa masuk di XXI untuk pemutaran perdana," ungkapnya bersyukur.
Lebih jauh lagi, film ini membawa misi kebangkitan ekonomi kerakyatan dan pelestarian identitas daerah. Melalui medium visual, Van Sweet berupaya mengangkat kembali harkat produk lokal dan kuliner tradisi. "Banyak produk-produk UMKM yang sudah lama kita perjuangkan tapi agak sulit. Nah, makanya lewat film budaya harapannya bisa membangkitkan lagi perekonomian Gorontalo, terutama bagaimana generasi muda lebih mencintai budaya kita, terutama makanan tradisional Gorontalo kita," jelas Van Sweet.
Setelah sukses menyapa penonton di bioskop, perjalanan "Manis Yang Tertinggal" akan dibawa kembali ke Asparaga pada tanggal 16 sebelum memulai tur roadshow. Lewat kolaborasi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan dan pemanfaatan bioskop keliling, karya penuh dedikasi ini dipastikan siap menjumpai masyarakat hingga ke pelosok daerah.
