![]() |
| Foto; Ilustrasi |
Intinusa - Bagi sebagian besar anak-anak, ingatan masa kecil adalah tentang kelembutan jemari ibu yang menyisir rambut di pagi hari, atau tawa riang saat merengek meminta uang jajan pada ayah untuk membeli es krim. Namun, bagi Nisa (11) dan adiknya, Rara (8), ingatan itu teramat samar, bahkan tidak ada. Sepanjang yang mereka tahu sejak kelopak mata mereka bisa merekam dunia, rumah mereka sudah sunyi. Perpisahan kedua orang tua telah merenggut hak mereka untuk tumbuh dalam dekapan hangat yang utuh. Sejak masih balita, dua anak perempuan ini harus belajar menelan kerinduan sekaligus kerasnya hidup sendirian.
Dunia mereka kian menyempit. Pascaperpisahan itu, sang ayah melangkah pergi dan perlahan hilang tanpa kabar. Sudah teramat lama tidak ada lagi komunikasi, tidak ada suara di ujung telepon, apalagi sekadar tanya tentang kabar sekolah kedua putri kecilnya. Nisa dan Rara seolah dipaksa menerima kenyataan bahwa figur seorang ayah telah raib dari garis hidup mereka.
Di balik dinding takdir yang runtuh itu, mereka tidak hanya berjuang melawan sepi dan hilangnya kasih sayang, tetapi juga melawan perut yang kerap kali lapar. Namun, di tengah impitan hidup yang mencekik, sepasang tangan mungil mereka justru menemukan sebuah pegangan baru—sebuah kompas spiritual yang merajut kembali tali batin yang sempat koyak dengan sang ibu.
Beras yang Menipis dan Kiriman yang Kadang Datang
Nisa dan Rara lahir dari keluarga non-Muslim. Badai perceraian yang memisahkan mereka dari orang tua sejak kecil sempat membuat arah hidup mereka limbung. Di rumah tempat mereka menumpang hari ini, hari-hari dilewati dengan penuh ketidakpastian. Sering kali, kedua bocah ini harus berangkat ke sekolah dengan tangan hampa, tanpa sepeser pun uang jajan di saku mereka.
Di seberang sana, sang ibu yang telah memeluk agama Islam terlebih dahulu, menjadi satu-satunya tumpuan harapan yang tersisa. Dengan segala keterbatasan hidup pascaperceraian, sang ibu kerap kali menyisihkan rupiah demi rupiah untuk dikirimkan kepada dua buah hatinya. Uang itu dikirim untuk menyambung hidup; untuk membeli beberapa liter beras agar dapur tetap mengepul, dan sisa beberapa ribu untuk uang jajan Nisa dan Rara.
Namun, kenyataan tak selalu berpihak pada mereka. Kiriman dari sang ibu tidak bisa datang setiap waktu. Ada hari-hari di mana kiriman itu tersendat, meninggalkan Nisa dan Rara dalam penantian di depan tempat penyimpanan beras yang mulai kosong.
Ironisnya, dalam keterbatasan fisik, ekonomi, dan hilangnya figur ayah itulah, ikatan spiritual mereka dengan sang ibu justru menguat. Didorong oleh rasa cinta, kerinduan, dan rasa ingin bersandar pada keyakinan yang sama dengan ibunya, Nisa memantapkan hati memeluk Islam, yang kemudian diikuti dengan polos oleh Rara.
"Dari Ayah sudah tidak ada komunikasi lagi, om. Kami tidak tahu kabar Ayah," bisik Nisa lirih, matanya menatap lantai dengan jemari yang saling bertautan. "Kalau tidak ada uang jajan, kami diam saja di kelas. Tapi Ibu suka kirim duit kalau ada, buat beli beras sama jajan kami. Itupun kadang-kadang. Makanya kami ikut Islam seperti Ibu, biar kalau salat, kami bisa doakan Ibu agar banyak rezeki, sehat, dan bisa cepat kumpul lagi."
Menghalau Lapar di Atas Sajadah
Menjadi mualaf di usia belia tanpa bimbingan harian orang tua kandung di sisi adalah perjuangan yang teramat sunyi bagi dua anak perempuan ini. Di sinilah Nisa, bocah kelas 5 SD, dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Di saat lambung mereka perih karena belum terisi, Nisa mengambil peran luar biasa untuk adiknya.
Dengan sabar, tangan kecil Nisa membetulkan posisi mukena putih yang mulai menguning dan kebesaran di tubuh Rara. Ia mengajari adiknya berwudu, lalu membimbingnya mengeja huruf-huruf hijaiyah satu demi satu di bawah temaram lampu rumah.
Bagi dua bocah perempuan ini, lapar, sepi, dan ditinggalkan tidak lagi mereka ratapi dengan tangisan. Mereka mengalirkan seluruh rasa itu ke atas sajadah. Pilihan memeluk Islam seolah menjadi obat penawar bagi segala rasa sakit yang mereka pikul. Saat perut terasa kosong atau kerinduan pada ibu memuncak, di situlah dahi kecil mereka bersujud menempel bumi. Mereka saling menggenggam tangan dengan erat setelah salam terakhir diucapkan, saling menguatkan dalam diam bahwa besok beras akan datang.
Masyarakat dan komunitas Muslim setempat yang mengetahui kondisi ini tidak tinggal diam. Perlahan, kerabat dan tetangga sekitar ikut mengulurkan tangan, memberikan perhatian, sedikit bantuan makanan, dan dekapan hangat yang sempat absen dari hidup mereka sejak kecil.
Setiap sore, dengan jilbab yang rapi meski tampak kusam, Nisa akan menggandeng erat jemari kecil Rara menuju TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an). Di sana, di antara lantunan ayat suci yang mereka baca dengan terbata-bata, mereka melupakan sejenak rasa lapar dan duka, bertransformasi menjadi dua santri cilik yang sedang giat meniti masa depan. (AN)
